TAFSIR TARBAWI

TAFSIR AYAT TENTANG KEWAJIBAN BELAJAR MENGAJAR ( SURAT AL-ANKABUT AYAT 19 – 20 )

 

I.   PENDAHULUAN.

 

Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan merupakan kalamullah yang mutlak kebenarannya, berlaku sepanjang  zaman dan mengandung ajaran dan petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia dan akhirat kelak. Ajaran dan petunjuk tersebut amat dibutuhkan oleh manusia dalam mengarungi kehidupannya.

Namun demikian al-Qur’an bukanlah kitab suci yang siap pakai dalam arti berbagai konsep yang dikemukakan al-Qur’an tersebut, tidak langsung dapat dihubungkan dengan berbagai masalah yang dihadapi manusia. Ajaran al-Qur’an tampil dalam sifatnya yang global, ringkas dan general sehingga untuk dapat memehami ajaran al-Qur’an tentang berbagai masalah tersebut, mau tidak mau seseorang harus melalui jalur tafsir sebagimana yang dilakukan oleh para ulama’.[1]

Salah satu pokok ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an adalah tentang kewajiban belajar mengajar, yang dalam makalah ini akan membahas tentang Surat al-Ankabut ayat 19 – 20.

 

II.  PEMBAHASAN.

           öNs9urr& (#÷rttƒ y#ø‹Ÿ2 ä—ωö7ムª!$# t,ù=y‚ø9$# ¢OèO ÿ¼çn߉‹Ïèム4 ¨bÎ) šÏ9ºsŒ ’n?tã «!$# ׎Å¡o„ ÇÊÒÈ   ö@è% (#r玍ř †Îû ÇÚö‘F{$# (#rãÝàR$$sù y#ø‹Ÿ2 r&y‰t/ t,ù=yÜø9$# 4 ¢OèO ª!$# à×Å´Yムnor’ô±¨Y9$# notÅzFy$# 4 ¨bÎ) ©!$# 4’n?tã Èe@à2 &äóÓx« ֍ƒÏ‰s% ÇËÉÈ

19. dan Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

20. Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi[1147]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

[1147] Maksudnya: Allah membangkitkan manusia sesudah mati kelak di akhirat

 

 

19.  Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, Kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

20.  Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.[2]

Allah SWT berfirman, menceritakan kisah Nabi Ibrahim a.s. bahwa Ibrahim memberi petunjuk kepada kaumnya untuk membuktikan adanya hari bangkit yang mereka ingkari melalui apa yang mereka saksikan dalam diri mereka sendiri. Yaitu bahwa Allah SWT menciptakan yang pada sebelumnya mereka bukanlah sesuatu yang disebut – sebut ( yakni  tiada ). Kemudian mereka ada dan menjadi manusia yang dapat mendengar dan melihat. Maka Tuhan yang memulai penciptaan itu mampu mengembalikannya menjadi hidup kembali, dan sesungguhnya mengembalikan itu mudah dan ringan bagi-Nya.

Kemudian Ibrahim memberi mereka petunjuk akan hal tersebut melalui segala sesuatu yang mereka saksikan di cakrawala, berupa berbagai macam tanda – tanda kekuasaan Allah yang telah menciptakan-Nya. Yaitu langit dan bintang – bintang yang ada padanya, baik yang bersinar maupun yang tetap beredar. Juga bumi serta lembah – lembah, gunung – gunung yang ada padanya, dan tanah datar yang terbuka dan hutan – hutan, serta pepohonan dan buah – buahan, sungai – sungai dan lautan, semua itu menunjukkan statusnya sebagai makhluk, juga menunjukkan adanya yang menciptakannya, yang mengadakannya serta memilih segalanya.[3]

Perintah berjalan kemudian dirangkai dengan perintah melihat seperti firman-Nya (  siiru fi al-ardhi fandhuru ) ditemukan dalam al Qur’an sebanyak tujuh kali, ini mengisyaratkan perlunya  melakukan apa yang diistilahkan dengan wisata ziarah. Dengan perjalan itu manusia dapat memperoleh suatu pelajaran dan pengetahuan dalam jiwanya yang menjadikannya menjadi manusia terdidik dan terbina, seperti dia menemui orang-orang terkemuka sehingga dapat memperoleh manfaat dari pertemuannya dan yang lebih terpenting lagi ia dapat menyaksikan aneka ragam ciptaan Allah.[4]

Dengan melakukan perjalanan di bumi seperti yang telah diperintahkan dalam ayat ini, seseorang akan menemukan banyak pelajaran yang berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam maupaun dari peninggalan – peninggalan lama yang masih tersisa puing – puingnya.

Ayat di atas adalah pengarahan Allah untuk melakukan riset tentang asal usul kehidupan lalu kemudian menjadikannya bukti.

Sebagai tambahan perjuangan mencari ilmu pengetahuan merupakan tugas atau kewjiban bagi setiap muslim baik bagi laki-laki maupun wanita. Menurut Nabi , tinta para pelajar nilainya setara dengan darah para syuhada’ pada hari pembalasan.dengan demikian, para pelaku dalam proses belajar mengajar, yaitu guru dan murid dipandang sebagai ‘‘ orang-orang terpilih’’ dalam masyarakat yang telah termotivasi secara kuat oleh agama untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan mereka.hal ini sejalan dengan ayat al-Qur’an surat al-Taubah ayat 122 yang artinya berbunyi :

Artinya : Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(Q.S.9.122 ).

Sungguh dalam Islam mereka yang tekun mencari ilmu lebih dihargai daripada mereka yang beribadah sepanjang masa. Kelebihan ahli ilmu, al-‘alim daripada ahli ibadah, al – ‘abid, adalah seperti kelebihan Muhammad atas orang Islam seluruhnya. Di kalangan kaum muslimin hadits ini sangat popular sehingga mereka memandang bahwa mencari ilmu merupakan bagian integral dari ibadah.

Dalam Islam, nilai keutamaan dari pengetahuan keagamaan berikut penyebarannya tidak pernah diragukan lagi. Nabi menjamin bahwa orang yang berjuang dalam rangka menuntut ilmu akan diberikan banyak kemudahanoleh Tuhan menuju surga. Para pengikut atau murid Nabi telah berhasil meneruskan dan menerapkan ajaran tentang semangat menuntut dan mencari ilmu. Motivasi religius ini juga bisa ditemukan dalam tradisi Rihla. Suatu tradisi ulama  yang disebut al – rihla fi talab al – ‘ilm ‘ Suatu perjalanan dalam rangka mencari ilmu’adalah bukti sedemikian besarnya rasa keingintahuan dikalangan para ulama.

Rihla, tidak hanya merupakan tradisi ulama, tapi juga merupakan kebutuhan untuk menuntut ilmu dan mencari ilmu yang didorong oleh nilai – nilai religius. Hadits – hadits Nabi mebuktikan suatu hubungan tertentu :” Seseorang yang pergi mencari ilmu dijalan Allah hingga ia kembali, ia memeperoleh pahala seperti orang yang berperang menegakkan agama. Para malaikat membentangkan sayap kepadanya dan semua makhluk berdoa untuknya termasuk ikan dan air”.

Islam secara mutlaq mendorong para pengikutnya untuk menuntut ilmu sejauh mungkin, bahkan sampai ke negeri Cina. Nabi menyatakan bahwa jauhnya letak suatu Negara tidaklah menjadi masalah, sebagai ilustrasi unik terhadap kemuliaan nilai ilmu pengetahuan.[5] Siapaun sepakat hadits Nabi yang berbunyi Utlub al ‘ilm walau kana bi al – shin, menekankan betapa pentingnya mencari ilmu lebih – lebih ilmu agama yang dikategorikan Imam Ghozali sebagai fardlu ‘ain.[6]

Disamping Hadits Nabi yang berkenaan dengan al- shin nabi juga menyinggung tentang al – yahud yang mana dikisahkan bahwa Nabi menyuruh sekretarisnya untuk mempelajari kitab al – Yahud sebagai proteksi diri dari penipuan kaum yahudi. Dari kedua hadits tersebut diungkapkan untuk memberi penekananan bahwa terdapat hubungan simbiosis antara ilmu pengetahuan dan dengan kemajuan serta ketahanan peradapan Islam.

 


[1]  DR.H Abddin Nata,MA. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada. 2002.

Cet I,hlm.1-2

[2] Prof.H. Mahmud Junus. Tarjamah Al-Qur’an Al-Karim.  Bandung. PT. al-Ma’arif. 1997. Cet 12. hlm.360.

[3] Al – Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir. Tafsir Ibnu Kasir. Bandung. Sinar Baru Algensindo. 2004.

Cet I      hlm. 245.

[4] M. Quaisy Shihab. Tafsir al-Misbah Vol 15. Jakarta. Lentera Hati. 2002. hlm. 468.

[5] Abdurrahman Mas’ud, M.A, Ph.D. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik. Yogyakarta.

Gama Media.2002. hlm.24 -27.

[6] Ibid. hlm.74.

 

 

. SURAH  AL-‘ALAQ  : 1-5

TERJEMAH :

1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

PENJELASAN BEBERAPA KOSA KATA

: Merupakan bentuk fi’l ul-amr (perintah), ia berasal dari akar kata qara’a yang pada awalnya mengandung arti meng­himpun. Dari akar kata tersebut muncul beberapa makna berikut: menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu – semuanya ber­muara pada arti menghimpun.

: Darah yang membeku dan menggantung.

: Kemuliaan

: Berasal dari akar kata qalama yang mengandung arti memotong ujung sesuatu. Hal ini dapat dimengerti, sebab pada awalnya alat menulis (qalam) itu terbuat dari suatu bahan yang dipotong dan diperuncing ujungnya.

PENJELASAN

Sebagaimana tercatat dalam buku Sirah Ibnu Hisyam, Nabi Muhammad melakukan kontemplasi ketika mulai menginjak usia 36 tahun. Nabi mulai melakukan kontemplasi pada saat melihat tatanan masyarakat di sekitarnya yang sudah rusak, manusia terasing dengan kemanusiaannya. Beliau melakukan kontemplasi bukan sekadar mengasingkan diri, tetapi mempunyai tujuan untuk mencari solusi bagaimana mengubah tatanan masyarakat. Di samping itu, beliau melakukan prosesi pencarian kebenaran secara tulus tanpa terbelenggu oleh pembatasan yang kita ciptakan sendiri. Pencarian ini tidak mungkin dilakukan dalam semangat komunal dan sektarian. Ia harus bebas dari setiap kemungkinan pengekangan ruhani (sikap alami manusia yang memihak kepada yang benar dan yang baik, dengan lapang dada, toleran, dan tanpa kefanatikan sebagai kelanjutan fitrahnya yang suci).

Pada saat Muhammad mencari kebenaran, beliau memulainya dengan cara penyucian jiwa. Muhammad menyadari bahwa dengan melakukan upaya penyucian jiwa akan memudahkan dalam menemukan pencerahan batin. Kenyataan tersebut telah menjadikan dirinya siap melakukan komunikasi rahasia dengan malaikat Jibril. Dalam beberapa hadits dikisahkan bahwa nabi sering bermimpi sebelum mendapat wahyu pertama. Hal tersebut merupakan sinyal-sinyal ilahiyah akan turunnya wahyu melalui malaikat Jibril, hingga akhirnya nabi mampu menangkap pe­nampakan Jibril, sebagaimana digambarkan dalam surah an-Najm. Jika Muhammad langsung me­nerima wahyu, kemungkinan besar beliau tidak mampu menangkap sinyal-sinyal Ilahi secara sempurna. Kenyataan tersebut sekaligus sebagai petunjuk bagi pengikut Nabi Muhammad agar senantiasa melakukan upaya penyucian jiwa, hingga ia mampu menangkap sinyal-sinyal Ilahi dalam bentuk ilham.

Ketika usia Nabi menginjak 40 tahun, seperti biasa beliau melakukan kontemplasi di Gua Hira. Beliau dikagetkan oleh kedatangan Jibril yang tiba-tiba menyuruhnya untuk membaca. Kalau kita merenung sejenak, bukankah Nabi saat itu berada di Gua Hira dan waktu malam? Sudah dapat dipastikan suasananya pastilah gelap—gulita. Tetapi mengapa Jibril menyuruh Nabi membaca? Apakah Jibril membawa bacaan yang tertulis dalam secarik kertas? Dapatkah beliau membaca sesuatu dalam keadaan gelap gulita?

Akhirnya terjadi tarik-ulur antara Jibril dan Muhammad, dan me­nurut riwayat kejadian tersebut berulang hingga tiga kali. karena Jibril mengerti kondisi Muhammad, perintah dan pelukannya itu sebagai upaya agar Muhammad dapat menenangkan diri dan tidak merasa ragu akan apa yang bakal diterimanya. Sebab kalau ia langsung diajari surah al-‘Alaq, Muhammad akan merasa ragu kalau itu berasal dari Tuhan, atau malah akan menganggap dirinya dalam keadaan tidak sadar atau hanya sebagai mimpi belaka.

Dengan demikian prosesi tarik-ulur itu bertujuan agar Nabi betul-betul menyadari bahwa la sedang berhadapan dengan utusan Tuhan, yang mengabarinya tentang kenabian, la tidak dalam keadaan bermimpi.

Ayat pertama dari wahyu pertama adalah “Bacalah dengan nama Tuhanmu,” tentu akan muncul pertanyaan “apa yang harus dibaca?” Ditinjau dari prespektif kebahasaan, jika satu ungkapan tidak di­sebutkan obyeknya, maka ia menunjukkan umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut, seperti alam raya dan masyarakat. Dengan demikian, Tuhan me­nyuruh Nabi agar membaca ayat-ayat Tuhan yang tertulis (qur’aniyyah) ataupun ayat-ayat yang tercipta (qauniyyah). Tetapi yang paling penting dan menjadi titik tekan ayat tersebut adalah pembacaan ter­sebut haruslah dilandasi atas nama Tuhan, Dengan pembacaan itu menjadikan beliau sadar akan kefakiran diri di hadapan Allah.

Apabila ayat tersebut dihubungkan dengan ayat kedua, tampak bahwa yang harus dibaca Nabi pada khususnya dan manusia pada umumnya adalah diri sendiri: “Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Secara tersirat, ayat kedua ini menuntut ma­nusia agar membaca dirinya, sehingga muncul kembali pertanyaan abadi yang ter­kadang sudah dilupakan manusia, yaitu siapakah, dari manakah, hendak ke mana aku? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang jika direnungkan terus-menerus akan melahirkan kesadaran kehambaan seseorang.

Pada ayat selanjutnya, Tuhan menyatakan, “Bacalah, dan Tuhan­mu yang Mahamulia”. Menurut Ash-Shabuni, pengulangan kata iqra’ berfungsi untuk memberikan semangat terhadap aktivitas membaca pengetahuan. Senada dengan pendapat tersebut, Wahbah menyebutkan bahwa pengulangan tersebut sebagai penegasan terhadap arti pentingnya membaca. Sementara itu, menurut Quraish Shihab, iqra’ pada ayat ini menunjukkan konsekuensi logis dari iqra’ pada ayat pertama. Artinya, kemuliaan Tuhan akan segera tercurahkan bagi siapa saja yang sudah melakukan pembacaan terhadap dirinya, baik melalui ayat qur’aniyyah dan ayat qauniyyah.

Di samping kata iqra’ yang terulang dua kali, kata insan pun terulang dua kali. Pertama, manusia dalam kontek berhadapan dengan Tuhan, sebagai makhluk yang diciptakan, yakni diciptakan dari segumpal darah. Kedua, manusia sebagai makhluk yang menerima pelajaran, yang memperoleh pengetahuan, dengan perantaraan suatu alat (qalam). Ayat terakhir menyebut satu proses perpindahan dari keadaan tidak tahu menjadi tahu. Dalam hal ini, tampak satu pengingatan kesadaran bahwa manusia bukan hanya sekadar makhluk biologis, tetapi juga makhluk makhluk ruhani (ma­khluk yang harus mengejewantahkan nama-nama Tuhan dalam pentas kehidupannya).

Adapun kemuliaan yang akan didapat oleh manusia yang melakukan pembacaan tersebut dapat terwujud dalam dua bentuk, yakni Allah akan mengajarkan kepadanya al-qalam yang termaktub pada ayat 4 dan Allah akan mengajarkan kepadanya sesuatu yang tidak diketahui manusia, yang termaktub pada ayat 5.

REFLEKSI

Jika lima ayat pada surah ini dikaitkan dengan pendidikan, maka terdapat beberapa titik temu sebagai berikut:

Pertama, dalam kontek ini, Muhammad berperan sebagai seorang murid, sebab beliau adalah orang yang mencari sesuatu petunjuk dengan jalan kontemplasi dan semangat yang tinggi. Dari sini dapat ditarik satu kesimpulan bahwa seharusnya seorang murid mempunyai semangat mencari ilmu dan mengawalinya dengan upaya penyucian jiwa, sehingga muncul dalam dirinya sikap tawadhu yang akan memudahkan dirinya dalam pembelajaran.

Kedua, malaikat yang dalam kontek surah ini berperan sebagai asisten Allah (guru), tidak serta merta memberikan pengajaran kepada Muhammad, tetapi ia terlebih dahulu memberikan per­tanyaan dengan tujuan agar beliau betul-betul menyadari bahwa dirinya dalam keadaan terjaga. Sehingga ketika menerima pengajaran tersebut la akan merasa yakin bahwa apa yang diterimanya merupakan kebenaran. Jika dikaitkan dengan pendidikan, dari sini terlihat bahwa inti dari peristiwa tersebut adalah menuntut agar seorang guru tidak secara langsung memberikan pengajaran kepada murid. Terlebih dahulu guru harus mencairkan suasana sehingga memudahkan murid dalam mencerna pelajaran yang disampaikan seorang guru.

Ketiga, dalam lima ayat dari surah al-‘Alaq terdapat empat hal yang bisa dijadikan pijakan dalam pembelajaran. Keempat hal tersebut adalah:

  • Pada tahap awal, pelajaran yang harus disampaikan adalah hal-­hal yang bersifat indrawi (aladzi khalaq).
  • Setelah anak didik mengetahui hal-hal yang bersifat indrawi, pembelajarannya harus ditingkatkan kepada masalah-masalah yang bersifat abstrak dan spiritual (khalaq al-insan).
  • Setelah anak didik mampu menguasai kedua hal tersebut, maka langkah berikutnya adalah proses pembelajaran yang berujung pada kemampuan menuliskan gagasan. Sebab, apa yang dipahami, baik yang kasat mata atau yang tak kasat mata, ia kurang begitu berkaitan kalau tidak dituangkan dalam bentuk tulisan yang akan menjadi khazanah keilmuan (‘allama bil-qalam).
  • Setelah tiga tahapan terlewati, maka tahap akhir adalah pembelajaran yang berkaitan dengan upaya-upaya yang akan meningkatkan seseorang untuk mendapatkan pengetahuan secara langsung dari Allah (‘allam al-insana ma lam ya’lam).

II. SURAH AL-MUDDATSTSIR : 1 – 7

TERJEMAH

1.  Hai orang yang berselimut,

2.  Bangunlah, lalu berilah peringatan,

3.  Dan Tuhanmu agungkanlah,

4.  Dan pakaianmu bersihkanlah,

5.  Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,

6.  Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang

lebih banyak.

  1. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

PENJELASAN BEBERAPA KOSA KATA

: Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad yang mengenakan selimut

: Bangunlah dari pembaringanmu dengan bersemangat dan bersungguh-sungguh.

: Berikanlah peringatan terhadap orang-orang Makkah

: Agungkanlah dan muliakanlah

: Sucikanlah pakaianmu dari berbagai najis

ASBAB AN-NUZUL

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ketika aku telah selesai uzlah selama satu bulan di Gua Hira, aku turun ke lembah. Ketika aku sampai di lembah tersebut, terdengar ada yang memanggilku, namun aku samasekali tidak melihat ada orang di sekitar daerah tersebut, sehingga akhirnya aku menengadahkan kepala ke langit. Dan tiba-tiba mataku melihat malaikat yang pernah aku lihat di Gua Hira. Saking kaget­nya aku pun segera pulang ke rumah dan meminta agar istriku menyelimutiku. ‘Selimutilah-selimutilah’.” Maka turunlah ayat 1-2 sebagai perintah untuk menyingsingkan selimut dan berdakwah.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Al Walid bin al-Mughirah membuat makanan untuk kaum Quraisy. Ketika mereka sedang makan-makan, Al Walid berkata kepada kawan-kawannya: “nama apa yang patut kalian berikan kepada orang seperti ini (Muhammad)?” Salah seorang di antara mereka berkata, “Ia pantas dikatakan tukang sihir.” Namun yang lainnya berkata, “la bukanlah tukang sihir.” Kemudian yang lainnya berpendapat bahwa Muhammad itu tukang tenung. Hal ini pun dibantah oleh sebagian di antara mereka dengan menyatakan bahwa Muhammad bukanlah tukang tenung, sehingga yang lainnya berpendapat bahwa Muhammad itu adalah penyair. Pendapat ini pun mendapat sanggahan dari yang lainnya. Semua pembicaraan tersebut sampai ke telinga Nabi, sehingga beliau merasa sedih serta berselimut, maka Allah menurunkan surah Al-Muddatstsir ayat 1-7 sebagai perintah untuk berdakwah.

PENJELASAN

Seruan terhadap Nabi dengan menggunakan al-mudatstsir tidak menyebut nama “ya muhammad” menunjukkan kasih sayang dan keibaan Allah kepada yang diseru. Adapun seruan itu bertujuan agar Nabi segera bangun untuk mencapai cita-cita dan harapannya dengan memberikan peringatan kepada manusia. Diketahui bahwa yang menjadi harapan dan cita-cita Muhammad untuk mengubah masyarakatnya tidak akan pernah terwujud hanya dengan berselimut. Ia menuntut adanya langkah-langkah kongkrit yang tepat, yang dalam ayat di atas dikatakan dengan memberikan peringatan.

Isi peringatan tersebut termaktub pada ayat selanjutnya, yakni mengagungkan dan memuliakan Allah sebagai pemelihara manusia. Rasulullah pada khususnya dan umat manusia pada umumnya dituntut untuk mensucikan bajunya, baik yang bersifat lahir dan maupun yang bersifat batin: mensucikan diri dan hati dari berbagai belenggu kemusyrikan, sehingga ayat tersebut juga dapat bermakna “mensucikan hati dari dosa dan kemaksiatan.”

Pada ayat ke-5 Nabi diperintahkan agar sekali-kali tidak melakukan penyembahan pada selain Allah. Ayat tersebut menyampaikan pesan agar Nabi menjauhi kebodohan dan segala hal yang jelek, tidak berakhlak­ seperti orang-orang musyrik yang begitu senang dalam kehidupan yang tidak beradab.

Setelah mengingatkan agar tidak menyembah selain Allah, pada ayat ke-6 Allah mengingatkan Nabi agar tidak memberi sesuatu dengan harapan mendapat imbalan lebih besar dari kadarnya dan seraya bersabar pada Tuhan. Quraish Shihab meng­artikan sabar dalam ayat ini dengan menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginan demi mencapai sesuatu yang baik atau yang lebih baik. Sabar bukanlah kelemahan atau menerima apa adanya, tetapi merupakan perjuangan yang menggambarkan kekuatan jiwa pelakunya sehingga mampu mengalahkan keinginan hawa nafsunya.

REFLEKSI

Pada ayat pertama terlihat bahwa Allah sebagai pendidik bagi Nabi senantiasa menyeru dengan ungkapan yang menyiratkan cinta-kasih, yang secara tidak langsung menggingatkan kepada Nabi agar dalam melakukan seruan tersebut dengan cinta-kasih. Dalam dunia pendidikan, kasih-sayang dalam bentuk keakraban dan kedekatan antara seorang pendidik dan peserta didik sangat diperlukan, sebagai bukti kecintaan dan pengakuan pendidik atas peserta didiknya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi, “Sesungguhnya saya dan kamu laksana bapak dari anak.” Di tempat lain Nabi pernah bersabda, “Tidaklah beriman jika kamu tidak mengasihi saudaramu sebagaimana kamu mengasihi diri sendiri”.

Di samping itu, Nabi diseru dengan orang yang berselimut. Dalam hal ini, ketika seseorang berselimut, maka keberadaanya menjadi tidak tampak, padahal sesungguhnya ia berada di balik selimut yang dikenakannya. Kalau demikian adanya, maka Nabi berselimut karena ia merasa ragu untuk menampakkan diri. Kenyataan ini bisa diartikan bahwa sesungguhnya Nabi sudah tahu potensi yang dimilikinya, namun beliau masih merasa ragu untuk memperlihatkan potensi tersebut. Jika dikaitkan dengan pendidikan, hal ini bisa dikenakan kepada mereka yang memiliki potensi untuk menjadi guru, namun ia masih merasa ragu akan kemampuan yang dimilikinya.

Pada ayat kedua Allah menyeru Muhammad untuk bangkit, yang secara langsung menuntut seorang calon pendidik untuk memiliki rasa percaya diri, berani, bersemangat, sungguh-sungguh dan pantang menyerah dalam memberikan peringatan dan melaksanakaan tugasnya sebagai pendidik. Dengan kata lain, seorang pendidik harus sungguh-sungguh dan rajin serta tetap memiliki semangat dan tidak mudah menyerah dalam melaksanakan tugasnya.

Kepercayaan diri dan semangat harus diaplikasikan dengan berusaha terus-menerus menambah wawasan dan pengetahuannya. Merupakan suatu keniscayaan bahwa dalam proses mendidik ia akan dihadapkan pada berbagai persoalan yang tidak pernah ditemukan dalam bangku kuliah, sehingga menuntut dirinya untuk senantiasa mengembangkan keterampilan.

Pada ayat ketiga, Allah mengingatkan Muhammad untuk bersikap rendah hati, sebab pengetahuan yang ia miliki dan kuasai hanyalah setetes air di tengah samudera. Oleh sebab itu Allah meletakkan rabb lebih awal daripada kata fakabbir, yang bermakna bahwa kebesaran hanya milik Allah. Secara tersirat, hal ini menunjukkan bahwa seorang calon pendidik dituntut agar tidak merasa paling unggul, paling pintar, paling menguasai dan sifat sombong lainnya. Dengan perasaan sombong akan menjadikan dirinya merasa puas terhadap apa yang selama ini ia peroleh. Lain halnya ketika seseorang merasa diri kurang, yang muncul dalam benak pikirannya adalah bagaimana agar memperoleh tambahan skil, ilmu pengetahuan dan wawasan.

Pada ayat keempat, Allah mengingatkan Muhammad agar membersihkan pakaian, baik pakaian lahir maupun pakaian batin. Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa penampilan lahir bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta didik. Menurut Al-Ghazali perbuatan, perilaku dan kepribadian seorang pendidik adalah lebih penting dari ilmu pengetahuan yang ia miliki, karena kepribadian seorang pendidik akan diteladani dan ditiru oleh peserta didik, baik itu disengaja atau tidak.

Ayat ke-6 mengisyaratkan bahwa seorang pendidik harus menyadari betul bahwa apa yang diterimanya itu harus sesuai dengan apa yang ia berikan. Seorang pendidik harus menyadari bahwa ia tidak boleh menuntut sesuatu yang tidak sesuai dengan kadar yang ia berikan.

Seorang pendidik harus mempunyai kualitas kesabaran, sebab dalam melaksanakan tugasnya, seorang pendidik harus menghadapi berbagai godaan dan tantangan yang tidak mungkin ia lalui tanpa kesabaran.

 

 

TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG TUJUAN PENDIDIKAN

14/11/2008 mazguru Tinggalkan komentar Go to comments

I. PENDAHULUAN

Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan.

Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi. Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. Gelar dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab. Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular.

Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis. Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.

Dalam makalah ini penulis berusaha menggali dan mendeskripsikan tujuan pendidikan dalam Islam secara induktif dengan melihat dalil-dalil naqli yang sudah ada dalam al-Qur’an maupun al-Hadits, juga memadukannya dalam konteks kebutuhan dari masyarakat secara umum dalam pendidikan, sehingga diharapkan tujuan pendidikan dalam Islam dapat diaplikasikan pada wacana dan realita kekinian.

II. PEMBAHASAN

1. Kandungan Al-Qur’an Surat al-Dzariyat [51] ayat 56

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. al-Dzariyat [51] : 56)

Ayat ini dengan sangat jelas mengabarkan kepada kita bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain hanyalah untuk “mengabdi” kepada Allah SWT. Dalam gerak langkah dan hidup manusia haruslah senantiasa diniatkan untuk mengabdi kepada Allah. Tujuan pendidikan yang utama dalam Islam menurut Al-Qur’an adalah agar terbentuk insan-insan yang sadar akan tugas utamanya di dunia ini sesuai dengan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid. Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasari sebagai pengabdian kepada Allah SWT semata.

Mengabdi dalam terminologi Islam sering diartikan dengan beribadah. Ibadah bukan sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ibadah juga merupakan dampak keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau dan tidak terbatas.[1] Ibadah dalam pandangan ilmu Fiqh ada dua yaitu ibadah mahdloh dan ibadah ghoiru mahdloh. Ibadah mahdloh adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah bentuk, kadar atau waktunya seperti halnya sholat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan ibadah ghoiru mahdloh adalah sebaliknya, kurang lebihnya yaitu segala bentuk aktivitas manusia yang diniatkan untuk memperoleh ridho dari Allah SWT.

Segala aktivitas pendidikan, belajar-mengajar dan sebagainya adalah termasuk dalam kategori ibadah. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW :

طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة (رواه ابن عبد البر)

“Menuntut ilmu adalah fardlu bagi tiap-tiap orang-orang Islam laki-laki dan perempuan” (H.R Ibn Abdulbari)

من خرج فى طلب العلم فهو فى سبيل الله حتى يرجع (رواه الترمذى)

“Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia sampai pulang kembali”. (H.R. Turmudzi)[2]

Pendidikan sebagai upaya perbaikan yang meliputi keseluruhan hidup individu termasuk akal, hati dan rohani, jasmani, akhlak, dan tingkah laku. Melalui pendidikan, setiap potensi yang di anugerahkan oleh Allah SWT dapat dioptimalkan dan dimanfaatkan untuk menjalankan fungsi sebagai khalifah di muka bumi. Sehingga pendidikan merupakan suatu proses yang sangat penting tidak hanya dalam hal pengembangan kecerdasannya, namun juga untuk membawa peserta didik pada tingkat manusiawi dan peradaban, terutama pada zaman modern dengan berbagai kompleksitas yang ada.

Dalam penciptaaannya, manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan dengan dua fungsi, yaitu fungsi sebagai khalifah di muka bumi dan fungsi manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki kewajiban untuk menyembah-Nya. Kedua fungsi tersebut juga dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya berikut, “…’Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’…” [Q.S Al-Baqarah(2): 30]. Ketika Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan dengannya Allah SWT mengamanahkan bumi beserta isi kehidupannya kepada manusia, maka manusia merupakan wakil yang memiliki tugas sebagai pemimpin dibumi Allah.

Ghozali melukiskan tujuan pendidikan sesuai dengan pandangan hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu sesuai dengan filsafatnya, yakni memberi petunjuk akhlak dan pembersihan jiwa dengan maksud di balik itu membentuk individu-individu yang tertandai dengan sifat-sifat utama dan takwa.[3]

Dalam khazanah pemikiran pendidikan Islam, pada umumnya para ulama berpendapat bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah ”untuk beribadah kepada Allah SWT”. Kalau dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan diarahkan untuk mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa, maka dalam konteks pendidikan Islam justru harus lebih dari itu, dalam arti, pendidikan Islam bukan sekedar diarahkan untuk mengembangkan manusia yang beriman dan bertaqwa, tetapi justru berusaha mengembangkan manusia menjadi imam/pemimpin bagi orang beriman dan bertaqwa (waj’alna li al-muttaqina imaama).

Untuk memahami profil imam/pemimpin bagi orang yang bertaqwa, maka kita perlu mengkaji makna takwa itu sendiri. Inti dari makna takwa ada dua macam yaitu; itba’ syariatillah (mengikuti ajaran Allah yang tertuang dalam al-Qur’an dan Hadits) dan sekaligus itiba’ sunnatullah (mengikuti aturan-aturan Allah, yang berlalu di alam ini), Orang yang itiba’ sunnatullah adalah orang-orang yang memiliki keluasan ilmu dan kematangan profesionalisme sesuai dengan bidang keahliannya. Imam bagi orang-orang yang bertaqwa, artinya disamping dia sebagai orang yang memiki profil sebagai itba’ syaria’tillah sekaligus itba’ sunnatillah, juga mampu menjadi pemimpin, penggerak, pendorong, inovator dan teladan bagi orang-orang yang bertaqwa.[4]

2. Kandungan Al-Qur’an Surat al-Baqarah [2] ayat 247

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah Telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah [2] : 247)

Ayat ini menerangkan mengenai kisah pengangkatan Thalut sebagai raja Bani Israil. Allah menceritakan kisah ini dengan sangat indah, dimana orang yang berpendidikan dan mempunyai fisik kuatlah yang pantas menjadi pemimpin dan melaksanakan titah sebagai khalifah fil ardl.

Nabi Syamuil mengatakan kepada Bani Israil, bahwa Allah SWT telah mengangkat Thalut sebagai raja. Orang-orang Bani Israil tidak mau menerima Thalut sebagai raja dengan alasan, bahwa menurut tradisi, yang boleh dijadikan raja itu hanyalah dari kabilah Yahudi, sedangkan Thalut sendiri adalah dari kabilah Bunyamin. Lagi pula disyaratkan yang boleh menjadi raja itu harus seorang hartawan, sedang Thalut sendiri bukan seorang hartawan. Oleh karena itu secara spontan mereka membantah, “Bagaimana Thalut akan memerintah kami, padahal kami lebih berhak untuk mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup untuk menjadi raja?”

Nabi Syamuil menjawab bahwa Thalut diangkat menjadi raja atas pilihan Allah SWT karena itu Allah menganugerahkan kepadanya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa sehingga ia mampu untuk memimpin Bani Israil. Dari ayat ini diambil pengertian bahwa seorang yang akan dijadikan raja ataupun pemimpin itu hendaklah memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

  1. Kekuatan fisik sehingga mampu untuk melaksanakan tugasnya sebagai kepala negara.
  2. Ilmu pengetahuan yang luas, mengetahui di mana letaknya kekuatan umat dan kelemahannya, sehingga dapat memimpinnya dengan penuh kebijaksanaan.
  3. Kesehatan jasmani dan kecerdasan pikiran.
  4. Bertakwa kepada Allah supaya mendapat taufik daripada-Nya untuk mengatasi segala kesulitan yang tidak mungkin diatasinya sendiri kecuali dengan taufik dan hidayah-Nya. [5]

Manusia sebagai khalifah di bumi bisa melaksanakan amanah memakmurkan bumi jika manusia tersebut mempunyai 4 karakter diatas. Karakter-karakter tersebut hanya bisa diperoleh dengan pendidikan yang baik dan usaha yang terus menerus. Pendidikan jasmani akan menghasilkan raga yang sehat, kuat dan tangguh. Pendidikan rohani akan menghasilkan pengetahuan yang luas, akhlak yang baik dan ketaqwaan kepada Sang Kholik. Kedua jenis pendidikan ini saling terkait dan sama pentingnya untuk menghasilkan manusia-manusia paripurna yang bisa mengemban amanat sebagai khalifah. Adapun harta kekayaan tidak dimasukkan menjadi syarat untuk menjadi raja (pemimpin) karena bila syarat-syarat yang empat tersebut telah dipenuhi, maka mudahlah baginya untuk mendapatkan harta yang diperlukan sebab Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.

Hujair A.H. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan visi dan misi pendidikan Islam. Menurutnya sebenarnya pendidikan Islam telah memiki visi dan misi yang ideal, yaitu “Rohmatan Lil ‘Alamin”. Selain itu, sebenarnya konsep dasar filosofis pendidikan Islam lebih mendalam dan menyangkut persoalan hidup multi dimensional, yaitu pendidikan yang tidak terpisahkan dari tugas kekhalifahan manusia, atau lebih khusus lagi sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun kehidupan dunia yang makmur, dinamis, harmonis dan lestari sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam al Qur’an. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang ideal, sebab visi dan misinya adalah “Rohmatan Lil ‘Alamin”, yaitu untuk membangun kehidupan dunia yang yang makmur, demokratis, adil, damai, taat hukum, dinamis, dan harmonis.[6]

  1. Kandungan Al-Qur’an Surat al-Qashash [28] ayat 26

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

Rupanya orang tua itu (Nabi Syuaib) tidak mempunyai anak laki-laki dan tidak pula mempunyai pembantu. Oleh sebab itu yang mengurus semua urusan keluarga itu hanyalah kedua putrinya saja, sampai keduanya terpaksa menggembala kambing mereka, di samping mengurus rumah tangga. Terpikirlah salah seorang putri itu untuk memintanya supaya datang memenuhi undangan bapaknya alangkah baiknya kalau Musa yang nampaknya amat baik sikap dan budi pekertinya dan kuat tenaganya diangkat menjadi pembantu di rumah ini. Putri itu mengusulkan kepada bapaknya angkatlah Musa itu sebagai pembantu kita yang akan mengurus sebagian urusan kita sebagai penggembala kambing, mengambil air dan sebagainya. Saya lihat dia seorang yang jujur dapat dipercaya dan kuat juga tenaganya. Usul itu berkenan di hati bapaknya, bahkan bapaknya bukan saja ingin mengangkatnya sebagai pembantu, malah ia hendak mengawinkan putrinya itu dengan Musa dan sebagai maharnya Musa harus bekerja di sana selama delapan tahun dan bila Musa menyanggupi sepuluh tahun dengan suka rela itulah yang lebih baik.[7]

Ayat di atas mengisahkan mengenai pelarian Nabi Musa dari kejaran tentara Fir’aun untuk dibunuh hingga akhirnya bertemu dengan dua putri dari Nabi Syuaib dan membantunya mengambilkan air minum untuk ternaknya. Nabi Syuaib adalah seorang pemuka agama dan masyarakat di negeri Madyan. Konon Nabi Musa adalah seorang yang gagah perkasa, kuat, pandai memimpin dan jujur lagi dapat dipercaya. Karena sifat-sifat terpuji itulah yang membuat anak gadis Nabi Syuaib terkesima dan Nabi Syuaib juga berencana menikahkan salah satu diantara anak gadisnya dengan Nabi Musa.

Ibnu Taimiyah dalam bukunya as-Syiasah Asyriyyah merujuk pada ayat di atas, demikian juga ucapan penguasa Mesir ketika memilih dan mengangkat Nabi Yusuf A.S sebagai kepala badan logistik negara.[8] “Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia (Yusuf), dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari Ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami” (Q.S. Yusuf [12] : 54). Hal ini menegaskan bahwa pentingnya kedua sifat tersebut, yaitu kuat dan dipercaya, untuk dimiliki oleh orang yang diberi amanat mengemban tugas berat.

Pengertian kuat disini adalah kekuatan dalam berbagai aspek dan bidang. Oleh karena itu terlebih dahulu harus dilihat bidang apa yang akan ditugaskan kepada yang dipilih. Sedangkan kepercayaan tersebut diatas yang dimaksud adalah integritas pribadi dari orang yang diberi amanat. Di zaman modern sekarang ini diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing dan mempunyai integritas pribadi yang unggul dan terpuji guna mengembangkan segala aspek kehidupan yang lebih bermakna. Diharapkan orang mukmin mempunyai spesialisasi tertentu di bidang iptek dan punya integritas pribadi tangguh untuk mengembangkan ummat Islam menuju kejayaan. Mukmin kuat dalam berbagai bidang lebih baik dibandingkan dengan mukmin lemah, hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW : “Dari Abu Hurairah R.A bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan masing-masing mempunyai kebaikan. Gemarlah kepada hal-hal yang berguna bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah menjadi lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, jangan berkata: Seandainya aku berbuat begini, maka akan begini dan begitu. Tetapi katakanlah: Allah telah mentakdirkan dan terserah Allah dengan apa yang Dia perbuat. Sebab kata-kata seandainya membuat pekerjaan setan.” (H.R. Muslim).[9]

  1. Kandungan Al-Qur’an Surat Ali Imron [3] ayat 19

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”

Ayat diatas menunjukkan sebagai berita dari Allah SWT yang menyatakan bahwa tidak ada agama yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam, yaitu mengikuti para Rasul yang diutus oleh Allah SWT di setiap masa, hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad SAW yang membawa agama yang menutup semua jalan lain kecuali jalan yang telah ditempuhnya. Karena itu, barangsiapa yang menghadap kepada Allah – sesudah Nabi Muhammad SAW diutus – dengan membawa agama yang bukan syariatnya, maka hal itu tidak diterima oleh Allah.

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas membaca firman Allah diatas dengan innahu yang di-kasrah-kan dan anna di-fathah-kan, artinya “Allah telah menyatakan, begitu pula para malaikat dan orang-orang berilmu, bahwa agama yang diridloi di sisi Allah adalah Islam”. Sedangkan menurut jumhur ulama’, mereka membacanya kasrah, yaitu ‘innad diina’ sebagai kalimat berita. Bacaan tersebut kedua-duanya benar, tetapi menurut bacaan jumhur ulama lebih kuat.[10]

Kemudian Allah SWT memberitakan bahwa orang-orang yang telah diberikan Al-Kitab kepada mereka di masa-masa yang lalu, mereka berselisih pendapat hanya setelah hujjah ditegakkan atas mereka, yakni sesudah para Rasul diutus kepada mereka dan kitab-kitab samawi diturunkan buat mereka. Sebagian dari mereka merasa dengki terhadap sebagian yang lainnya, lalu mereka berselisih pendapat dalam perkara kebenaran. Hal tersebut terjadi karena terdorong oleh rasa dengki, benci dan saling menjatuhkan, hingga sebagian dari mereka berusaha menjatuhkan sebagian yang lain dengan menentangnya dalam semua ucapan dan perbuatannya, sekalipun benar.[11] Terhadap orang-orang yang ingkar kepada ayat-ayat Allah yang telah diturunkan, maka sesungguhnya Allah akan membalas perbuatannya dan melakukan perhitungan terhadapnya atas kedustaannya itu, dan akan menghukumnya akibat ia menentang Kitab-Nya.

Keterangan di atas menunjukkan kedengkian dan kebencian umat Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam pada zaman sekarang setelah hujjah dan penjelasan datang pada mereka tentang kebenaran Islam. Walaupun mereka diberi akal dan pengetahuan oleh Allah SWT, tetapi karena hatinya tertutup oleh rasa sombong dan dengki terhadap Islam sehingga tidak mau menerima kebenaran Islam. Pengetahuan yang mereka peroleh digunakan untuk menuruti hawa nafsu mereka belaka, seperti dapat kita lihat di negara-negara yang mayoritas penduduknya Yahudi dan Nasrani. Pengetahuan yang telah diperoleh untuk memperkaya diri, menyombongkan diri bahkan saling berusaha menguasai dan menjajah diantara satu dengan lainnya dalam segala bidang kehidupan. Sehingga pengetahuan yang mereka peroleh kering dari makna serta membuat semakin kehilangan arah ke-ilahi-an dan miskin dimensi transendental.

Tujuan pendidikan ala Al-Qur’an jelas beda dengan konsep pendidikan di Barat yang mengedepankan materialistik. Dengan bekal pendidikan dan pengetahuan yang didapat dari proses belajar-mengajar secara Islami diharapkan akan terbentuk muslim yang lebih tangguh, berpengetahuan luas dan yakin akan kebenaran ajaran Islam. Pengetahuan yang didapatpun akan lebih didayagunakan untuk kemaslahatan umat Islam pada khususnya dan rahmatan lil alamin pada umumnya.

III. ANALISIS KRITIS AYAT-AYAT TUJUAN PENDIDIKAN

Tujuan adalah suatu yang diharapakan tercapai setelah sesuatu kegiatan selesai atau tujuan adalah cita, yakni suasana ideal itu nampak yang ingin diwujudkan. Dalam tujuan pendidikan, suasana ideal itu tampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education). Adapun tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup, selain sebagai arah atau petunjuk dalam pelaksanaan pendidikan, juga berfungsi sebagai pengontrol maupun mengevaluasi keberhasilan proses pendidikan.

Sebagai pendidikan yang notabenenya Islam, maka tentunya dalam merumuskan tujuan harus selaras dengan syari’at Islam. Adapun rumusan tujuan pendidikan Islam yang disampaikan beberapa tokoh adalah :

1. Ahmad D Marimba; tujuan pendidikan Islam adalah; identiuk dengan tujuan hidup orang muslim. Tujuan hidup manusia munurut Islam adalah untuk menjadi hamba allah. Hal ini mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri kepada-Nya .

2. Dr. Ali Ashraf; “tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah pada tingkat individu, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya”.

3. Muhammad Athiyah al-Abrasy. “the fist and highest goal of Islamic is moral refinment and spiritual, training” (tujuan pertama dan tertinggi dari pendidikan Islam adalah kehalusan budi pekerti dan pendidikan jiwa)”

4. Syahminan Zaini; “Tujuan Pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat dan sehat dan trampil, berotak cerdas dan berilmua banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan berpendirian teguh”.

Dari berbagai pendapat tentang tujuan pendidikan Islam diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.

IV. KESIMPULAN

Dari uraian dan penjelasan di atas, pemakalah menyimpulkan :

1. Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah membentuk pribadi muslim yang sadar akan tujuan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid (hamba). Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasari sebagai pengabdian kepada Allah SWT semata, selain itu dalam setiap gerak langkahnya selalu bertujuan memperoleh ridho dari Yang Maha Kuasa.

2. Pendidikan Islam mempunyai misi membentuk kader-kader khalifah fil ardl yang mempunyai sifat-sifat terpuji seperti amanah, jujur, kuat jasmani dan mempunyai pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang. Diharapkan akan terbentuk muslim yang mampu mengemban tugas sebagai pembawa kemakmuran di bumi dan “Rahmatan Lil Alamin“.

3. Secara umum tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Wallahu ‘alam bisshowab

DAFTAR PUSTAKA

Al-Abrasy M. Athiyah, 1968, At-Tarbiyah al-Islamiyah (terj; Bustami A.Goni, dan Djohar Bakry) , Jakarta : Bulan Bintang.

Al-Abrasy M. Athiyah, 1969, At-Tarbiyah al-Islamiyah wal Falsafatuha, Isa al-Baby al-Halaby, Qahirah

Al-Attas An Naquib, 1988, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Bandung : Mizan.

Ali Ashraf, 1989, Horison Baru Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta : Pustaka Firdaus.

Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, 1995, Bulughul Maram, (terj; H. Mahrus Ali), Mutiara Ilmu , Surabaya

Azra. Azyumardi, 2002, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu

Drs. H. Moh. Rifa’i, 1978, Ilmu Fiqh Islam Lengkap, Semarang : PT. Karya Toha Putra

M. Quraisy Shihab, 2002, Tafsir al-Mishbah, Jakarta : Lentera Hati

Marimba, Ahmad D, 1989, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : Al-Ma’arif.

Sanaky, Hujair AH, 2003, Paradigma Pendidikan Islam; Membangun Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: Safiria Insania Press dan MSI.

Syahminan Zaini, 1986, Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam, Jakarta : Pustaka al-Husna.

http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp

http://kahmiuin.blogspot.com/2007/08/konsep-pendidikan-dalam-al-quran-dan.html


[1] . M. Quraish Shihab, Terjemah Tafsir Al-Mishbah juz, (dikutip dari Syeh Muhammad Abduh) juz 13

[2] . Drs. H. Moh. Rifa’i, Ilmu Fiqh Islam Lengkap, Semarang : PT. Karya Toha Putra, hlm 13

[3] . Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002, hal.33

[4] . http://kahmiuin.blogspot.com/2007/08/konsep-pendidikan-dalam-al-quran-dan.html

[5] . http://ccc.1asphost.com/assalamquran/Alquran_surah.asp?pageno=13&SuratKe=2#247

[6] . Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam; Membangun Masyarakat Indonesia, Yogyakarta: Safiria Insania Press dan MSI, hal. 142

[7] . http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=28#27

[8] . M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Mishbah Vol 10, Jakarta : Lentera Hati, 2002

[9] . Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, Bulughul Maram, (terjemah Bulughul Maram, hadits no 1554, hlm 669)

[10] . Bahrun Abu Bakar, L.C, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir juz 3, hlm 315

[11] . ibid, hlm 315

 

 

TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG OBJEK PENDIDIKAN

TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG OBJEK PENDIDIKAN – Ayat-ayat tentang objek pendidikan dapat ditemukan di beberapa ayat berikut ini: At-Tahrim: 6, Asy-Syu’ara: 214, At-Taubah: 122, An-Nisa’: 170. ayat-ayat ini secara seimbang berada di surat Makkiyah dan Madaniyah. – Ayat-ayat Makkiyah dalam ruang lingkup keluarga dan kerabat, sedangkan yang spesifik dan umum berada di ayat Madaniyah. – Definisi Objek ( peserta didik): peserta didik bersifat umum lintas usia, agama, jenis kelamin,status sosial, budaya dsb karena ajaran Islam berlaku untuk semua manusia tanpa terkecuali (An-Nahl: 125, Shad: 87) – Klasifikasi peserta didik sangat terkait dengan lembaga pendidikan yang ada, baik yang informal, formal dan nonformal. – At-Tahrim: 6: Keluarga sebagai objek pendidikan pertama dan utama. Kata ’Ahl’ berarti keluarga kecil yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak-anak. – Asy-Syu’ara: 214: Keluarga besar termasuk di dalamnya kerabat yang diistilahkan dengan ’Asyirah’. – At-Taubah: 122: komunitas formal yang melakukan pengkajian ilmu secara intens yang diistilahkan dengan terminologi ’tha’ifah’( sekelompok kecil dari masyarakat). Dapat dikatakan inilah peserta didik formal yang secara spesifik memiliki tanggung jawab ilmiyah dan moral untuk memberi pengajaran kepada masyarakatnya. – An-Nisa’: 170: seluruh masyarakat secara umum. – Etika dan sifat peserta didik (potensi positif dan negatif): o Al-Isra’: 11 : cenderung bersifat tergesa-gesa o Al-Ma’arij: 20 : cenderung bersifat keluh kesah o Al-Kahfi: 54 : cenderung suka membantah o Al-Balad: 4 : cenderung bersusah payah o An-Nisa’: 28 : cenderung bersifat lemah – Hadits ’كل مولود يولد على الفطرة . – Peserta didik termasuk bayi dalam kandungan – Keragaman jenis peserta didik menuntut adanya lembaga pendidikan yang berbeda juga. – Subjek keluarga bentuk lembaga pendidikannya adalah pendidikan informal – Masyrakat bentuk lembaga pendidikannya adalah pendidikan nonformal – Sedangkan pendidikan formal dapat ditemukan secara implisit dalam surat At-Taubah: 122 yang disebutkan dengan istilah ’tha’ifah’ (kelompok kecil yang memiliki kemampuan untuk mengemban amanah ilmiyah dengan konsekuensi dan tanggung jawab menyebarkannya kepada orang lain). – Pendidikan berlangsung dari lahir hingga ke liang lahat, bagaimana teknisnya? – Prioritas dalam pendidikan; pendidikan akhlak atau iman? – Anak menuntut pendidikan kepada orang tua? – Objek pendidikan: receiver ilmu – الأجر على قدر المشقة balasan kebaikan itu berbanding lurus dengan tingkat kesukaran dan konsekuensi seseorang melakukan kebaikan tsb.

Diposkan oleh GUMILAR RNA di 12:49

 

 

AKALAH
OBJEK PENDIDIKAN BERDASARKAN AL-QUR’AN
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas dari Mata Kuliah Tafsir Tarbawy

Dosen Pembimbing:
H. Burhanudin Ubaidilah, Lc. M.Ag

S1/ SMT III A
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MIFTAHUL ‘ULA
(STAIM)
NGLAWAK KERTOSONO NGANJUK
Desember, 2010

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam sebuah pendidikan tentunya terdapat sebuah subyek, obyek dan sarana-sarana lain yang sekiranya dapat membantu terselenggaranya sebuah pendidikan. Allah SWT telah memerintahkan kepada Rasul-Nya yang mulia, di dalam ayat-ayat yang jelas ini, agar dia memberikan peringatkan kepada keluarga dan sanak kerabat duli kemudian kepada seluruh umat manusia agar tidak seorang pun yang berprasangka jelek kepada nabi, keluarga dan sanak kerabatnya.
Jika dia memulai dengan memberikan peringatan kepada kelurga dan sanak kerabatnya, maka hal itu akan lebih bermanfaat dan seruannya akan lebih berhasil. Allah juga menyuruh agar bersikap tawadhu kepada pengikut-pengikut yang beriman, bersikap baik keapad mereka, dan ikut menggung kesusahan yang mereka mau menerima nasehat.
Dalam makalah ini akan sedikit membahas terkait dengan obyek Pendidikan berdasarkan Al Qur’an. Yang terkandung dalam QS At Tahrim Ayat 6, QS. Asy Syu’araa Ayat 214, QS. At Taubah: 122 dan QS. An Nisaa’: 170.
B. Rumusan Masalah
1. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS At Tahrim Ayat 6?
2. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan Asy Syu’araa Ayat 214?
3. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS. At Taubah: 122?
4. Siapakah obyek pendidikan berdasarkan QS. An Nisaa’: 170?
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan QS At Tahrim Ayat 6.
2. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan Asy Syu’araa Ayat 214.
3. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan QS. At Taubah: 122.
4. Untuk mengetahui obyek pendidikan berdasarkan QS. An Nisaa’: 170.

BAB II
PEMBAHASAN
OBJEK PENDIDIKAN BERDASARKAN AL-QUR’AN
Dalam sebuah pendidikan tentunya terdapat ilmu pengetahuan, adanya tujuan pendidikan, subjek pendidikan, metode pengajaran dan tentunya terdapat objek pendidikan pula. Dalam objek pendidikan telah terserat dalam Al Qur’an, yaitu dalam surat At Tahrim ayat 6, Assyu’ara 214, At Taubat 122 dan An Nisa 170.
A. QS At Tahrim Ayat 6
$
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS.At-Tahrim:6).
Dalam ayat ini terdapat lafadz perintah berupa fi’il amr yang secara langsung dan tegas, yakni lafadz (peliharalah/ jagalah), hal ini dimaksudkan bahwa kewajiban setiap orang Mu’min salah satunya adalah menjaga dirinya sendiri dan keluarganya dari siksa neraka.
Dalam tafsir jalalain proses penjagaan tersebut adalah dengan pelaksanaan perintah taat kepada Allah SWT. Merupakan tanggung jawab setiap manusia untuk menjaga dirinya sendiri, serta keluarganya, sebab manusia merupakan pemimpin bagi dirinya sendiri dan keluarganya yang nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Sebagaimana sabda Rosuloulloh SAW.
“Dari Ibnu Umar ra. Berkata: saya mendengar Rosululloh SAW. Bersabda: Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan setiap dari kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanyai atas kepemimpinannya, orang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanyai atas kepemimpinannya (HR. Bukhary-Muslim).
Diriwayatkan bahwa ketika ayat ke 6 ini turun, Umar berkata: “Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana menjaga keluarga kami?” Rasulullah SAW. menjawab: “Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka melakukan apa yang Allah memerintahkan kepadamu melakukannya. Begitulah caranya meluputkan mereka dari api neraka. Neraka itu dijaga oleh malaikat yang kasar dan keras yang pemimpinnya berjumlah sembilan belas malaikat, mereka dikuasakan mengadakan penyiksaan di dalam neraka, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepadanya.
Maka jelas bahwa tugas manusia tidak hanya menjaga dirinya sendiri, namun juga keluarganya dari siksa neraka. Untuk dapat melaksanakan taat kepada Allah SWT, tentunya harus dengan menjalankan segala perintahNya, serta menjauhi segala laranganNya. Dan itu semua tak akan bisa terjadi tanpa adanya pendidikan syari’at. Maka disimpulkan bahwa keluarga juga merupakan objek pendidikan.
Dilihat dari ayat itu sendiri terdapat hubungan antar kalimat (munasabah), bahwa manusia diharapkan seperti prilaku malaikat, yakni mengerjakan apa yang diperintah Allah SWT. Tafsiran: ayat ini menerangkan tentang ultimatum kepada kaum mu’minin (diri dan keluarganya) untuk tidak melakukan kemurtadan dengan lidahnya, meskipun hatinya tidak.
Kesimpulan: ayat ini menunjukkan perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka dan merupakan tarbiyah untuk diri sendiri dan keluarga.
B. QS. Asy Syu’araa Ayat 214

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Q.S Asy Syu’ara': 214).
Sesuai dengan ayat sebelumnya (QS. At Tahrim: 6) bahwa terdapat perintah langsung dengan fi’il amar (berilah peringatan). Namun perbedaannya adalah tentang objeknya, dimana dalam ayat ini adalah kerabat-kerabat.
”Al Aqrobyn” mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutalib, lalu Nabi saw. memberikan peringatan kepada mereka secara terang-terangan; Demikianlah menurut keterangan hadis yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Namun hal ini bukan berarti khusus untuk Nabi SAW saja kepada Bani Hasyim dan Muthollib, tetapi juga untuk seluruh umat Islam. Sebab sesuai kaidah ushul fiqh: ”…dengan umumnya lafadz, bukan dengan khususnya sebab”.
Dilihat dari munasabah ayat, selanjutnya terdapat ayat ke-215: ”Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman” (QS. Asy-Syu’araa: 215). Jadi perintah ini juga berlaku untuk seluruh umat Islam.
Asbab nuzul ayat ini, Ketika ayat ini turun Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthalib, demi Allah aku tidak pernah menemukan sesuatu yang lebih baik di seluruh bangsa Arab dari apa yang kubawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku dan washiku serta khalifahku?” Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib. Di antara hadirin beliaulah yang paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya, Rasulullah Nabi. Aku (bersedia menjadi) wazirmu dalam urusan ini”. Lalu Rasulullah SAW memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku dan washiku serta khalifahku terhadap kalian. Oleh karena itu, dengarkanlah dan taatilah ia.” Mereka tertawa terbahak-bahak sambil berkata kepada Abu Thalib: “Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu”
Umat Islam adalah saudara bagi yang lain, maka harus saling mendidik dan menasehati. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “ Dari Jarir Ibn Abdillah ra. Berkata: Saya bersumpah setia kepada Rosululloh SAW untuk mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menasehati kepada setiap muslim”. (HR. Bukhory-Muslim). Maka kerabat-kerabat kita terdekat merupakan juga objek dakwah dan tarbiyah.
C. QS. At Taubah: 122
$
”Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At Taubah: 122).
Dalam ayat ini juga terdapat dua lafadz fi’il amar yang disertai dengan lam amar, yakni (supaya mereka memperdalam ilmu agama) dan lafadz (supaya mereka membari peringatan),yang berarti kewajiban untuk belajar dan mengajar.
Adapun proses belajar dan mengajar sangat dianjurkan oleh Nabi SAW. Sabda beliau: ”Dan darinya (Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rosululloh SAW bersabda: Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala orang yang mengikutinya tidak dikurangi sedikitpun dari padanya. (HR. Muslim).
Asbab nuzulnya adalah Tatkala kaum Mukminin dicela oleh Allah bila tidak ikut ke medan perang kemudian Nabi saw. mengirimkan sariyahnya, akhirnya mereka berangkat ke medan perang semua tanpa ada seorang pun yang tinggal, maka turunlah firman-Nya berikut ini: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi ke medan perang semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan suatu kabilah di antara mereka beberapa orang beberapa golongan saja kemudian sisanya tetap tinggal di tempat untuk memperdalam pengetahuan mereka yakni tetap tinggal di tempat mengenai agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya dari medan perang, yaitu dengan mengajarkan kepada mereka hukum-hukum agama yang telah dipelajarinya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya dari siksaan Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Sehubungan dengan ayat ini Ibnu Abbas r.a. memberikan penakwilannya bahwa ayat ini penerapannya hanya khusus untuk sariyah-sariyah, yakni bilamana pasukan itu dalam bentuk sariyah lantaran Nabi saw. tidak ikut. Sedangkan ayat sebelumnya yang juga melarang seseorang tetap tinggal di tempatnya dan tidak ikut berangkat ke medan perang, maka hal ini pengertiannya tertuju kepada bila Nabi saw. berangkat ke suatu ghazwah.
Kesimpulan: maka tidak sepatutnya seluruh kaum muslimin pergi berperang (jihad), namun harus ada juga yang harus belajar dan mengajar. Sebab proses tarbiyah sangat pentingbagi kukuhnya Islam. Rosul SAW bersabda (artinya): ”Di hari kiamat kelak tinta yang digunakan untuk menulis oleh para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada (yang gugur di medan perang)” (HR. Syaikhani).
D. QS. An Nisaa’: 170
BÏ` /Î$$9øsy,dÈ #$9§™ßqAã _y$!äu.äNã %s‰ô #$9Z•$•â ƒt»¯’r‰škp$ Bt$ !¬ ùs*Îb •?s3õÿàãr#( ru)Îb 4 9©3äNö zyöŽZ# ùs«t$BÏZãq#( ‘§/nÎ3äNö ÈÉÐÊÇ my3ŊJV$ ãt=΋K•$ #$!ª ru.x%bt 4 ru#${F‘öÚÇ #$9¡¡Jy»quºNÏ ûΒ
”Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan sedikitpun kepada Allah) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Qs. An Nisa’: 170).
Dalam ayat ini Allah menyeru kepada manusia untuk beriman, sebab sudah ada Rosul (Nabi Muhammad SAW) yang diutus untuk membawa syari’at yang benar.
Dalam tafsir disebutkan bahwa lafadz An Naas pada saat turunnya ayat adalah kepada ahli kafir Mekah. Adapun manusia, karena adanya kesamaan jenis, ukhuwah basyariyyah, maka dakwah dan tarbiyah kepada non muslim pun harus tetap dilakukan, tentunya dengan jalan yang baik.
Nabi SAW bersabda:”Dari Abdullah Ibn ’Amr Ibn Al Ash ra. Berkata, sesungguhnya Nabi SAW besabda: Sampaikanlah dariku walau satu ayat…..” (HR. Bukhori).
Kesimpulan: Maka manusia baik yang muslim maupun non muslim merupakan objek dakwah dan tarbiyah. Namun disini perlu diluruskan, bahwa proses dakwah dan tarbiyah tidak harus dengan kekerasan dan perang, tetapi dengan jalan yang hikmah, mauidzoh hasanah, dan argumen yang bertanggung jawab.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Dalam QS At Tahrim Ayat 6 ini menunjukkan perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka dan merupakan tarbiyah untuk diri sendiri dan keluarga.
2. Dalam QS. Asy Syu’araa Ayat 214 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan dalam ayat ini diutamakan adalah kerabat terdekat dari kita dan orang-orang yang dekat kepada azab Allah Swt.
3. Dalam QS. At Taubah: 122 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan adalah lebih khusus yakni sebagian dari orang-orang mukmin.
4. Dalam QS. An Nisaa’: 170 menunjukan yang menjadi obyek pendidikan adalah seluruh manusia baik yang muslim maupun non muslim merupakan objek dakwah dan tarbiyah. Namun disini perlu diluruskan, bahwa proses dakwah dan tarbiyah tidak harus dengan kekerasan dan perang, tetapi dengan jalan yang hikmah, mauidzoh hasanah, dan argumen yang bertanggung jawab.

Daftar Pustaka

Tafsir Jalallain
Depag RI. 2000.Al Quran dan Terjemahannya, Edisi Baru. Surabaya: CV Karya Utama
Hadhiri, Choiruddin. 1995. Klasifikasi Kandungan Al Quran. Jakarta: Gema Insani Press

http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/06/tafsir-tarbiyah.html

Ashiddiqy Muhammad Hasbi,2000.Tafsir Al Qur’anul Majid An Nuur.Semarang: PT Pustaka Rizki Putra

 

 

Tafsir Tarbawi (Objek Pendidikan)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1.      LATAR BELAKANG

Al Qur’an, kitab umat Islam di seluruh dunia. Bukan hanya sekedar kumpulan lembaran-lembaran yang di baca dan mendapatkan pahala dengan membacanya. Namun lebih dari itu, Al Qur’an merupakan mukjizat yang abadi sampai akhir nanti, bahkan Al Qur’an memberikan hujjah dan sebagai penolong di hari perhitungan amal kelak. Di dalam Al Qur’an terdapat kandungan pengetahuan yang tiada tara. Baik yang tersurat ataupun yang masih tersirat.

Untuk mengetahui makna-makna dan hikmah-hikmah yang terdapat dalam Al Qur’an, perlu adanya penafsiran-penafsiran tentang ayat-ayatnya dan semua itu terdapat di dalam ilmu tafsir. Diantara ilmu-ilmu Al Qur’an, tafsir merupakan ilmuyang mencakup berbagai disiplin ilmu. Di dalamnya terhimpun tafsir dari sudut balaghoh, nahwu, sorof, asbab nuzul, munasabah, hadist, tarikh, dan lain sebagainya.

Dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an diperlukan ilmu yang luas. Maka dalam makalah ini akan di coba menguraikan tafsir tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan objek pendidikan, yakni : QS. At Tahrim ayat 6, QS. Asy Syu’araa ayat 214, QS. At taubah ayat 122, dan QS. An Nisaa’ ayat 120.

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1.      QS. AT TAHRIM AYAT 6

يَأَيُهَا الَذِيْنَ أَمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهاََ مَلَئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَيَعْصُوْنَ اللهَ مَآأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَايُؤْمَرُوْنَ

Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At Tahrim Ayat 6)

Dalam ayat ini terdapat lafadz perintah berupa fi’il amr yang secara langsung dan tegas, yakni lafadz (peliharalah atau jagalah), hal ini dimaksudkan bahwa kewajiban setiap mukmin salah satunya adalah menjaga dirinya sendiri dan keluarganya dari siksa neraka. Dalam tafsir jalalain penjagaan tersebut adalah dengan pelaksanaan perintah taat kepada Allah SWT.

Merupakan tanggung jawab setiap manusia untuk menjaga dirinya sendiri serta keluarganya, sebab manusia merupakan pemimpin bagi dirinya sendiri dan keluarganya yang nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, (artinya) : ”Dari Ibnu Umar ra. Berkata : saya mendengar Rasulullah SAW, bersabda : setiap hari dari kamu adalah pemimpin, dan setiap dari kamu akan dimintai pertanggaungjawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanyai atas kepemimpinannya, orang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanyai atas kepemimpinannya…”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan bahwa ketika ayat ke-6 ini turun, Umar berkata : ”Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami dan bagaimana menjaga keluarga kami?” Rasulullah SAW, menjawab : ”Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka melakukan apa yang Allah memerintahkan kepadamu melakukannya. Begitulah cara meluputkan mereka dari api neraka. Neraka itu di jaga oleh malaikat yang kasar dan keras yang pemimpinnya berjumlah sembilan belas malaikat, mereka dikuasakan mengadakan penyiksaan di dalam neraka, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepadanya”. Maka jelas bahwa tugas manusia tidak hanya menjaga dirinya sendiri, namun juga keluarganya dari siksa neraka. Untuk dapat melaksanakan taat kepada Allah SWT, tentunya harus dengan menjalankan segala perintah-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya. Dan semua itu tak akan bisa terjadi tanpa adanya pendidikan syari’at. Maka disimpulkan bahwa keluarga juga merupakan objek pendidikan.

Di lihat dari ayat itu sendiri terdapat :

a.         Hubungan antar kalimat (munasabah), bahwa manusia diharapkan seperti perilaku malaikat, yakni mengerjakan apa yang di perintah Allah SWT.

b.         Tafsiran : ayat ini menerangkan tentang ultimatum kepada kaum mukminin (diri dan keluarganya) untuk tidak melakukan kemurtadan dengan lidahnya, meskipun hatinya tidak.

 

2.2.      QS. ASY SYU’ARAA AYAT 214

وَأَنْذِرْعَشِيْرَتَكَ اْلأَقْرَبِيْنَ

Artinya : ”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (QS. Asy Syu’araa’ ayat 214)

Sesuai dengan ayat sebelumnya (QS. At Tahrim ayat 6) bahwa terdapat perintah langsung dengan fi’il amr (berilah peringatan). Namun perbedaannya adalah tentang objeknya, dimana dalam ayat ini adalah kerabat-kerabat. ”Al Aqrobyn” mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthollib, lalu nabi Muhammad SAW, memberikan peringatan kepada mereka secara terang-terangan ; demikianlah menurut keterangan hadist yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Namun hal ini bukan berarti khusus untuk nabi Muhammad SAW, saja kepada Bani Hasyim dan Bani Muthollib, tetapi juga untuk seluruh umat Islam. Selaras dengan kaidah ushul fiqh :

إِذَا وَرَدَ اَلْعَامُ عَلَى سَبَبِ الْخَاصِ فَالْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَفْظِ لاَبِخُصُوْصِ السَبَبِ

Artinya : ”Apabila datang dalil ‘am karena sebab yang khos maka yang dianggap adalah umumnya lafadz, bukan dengan kekhusususan sebab”.

Di lihat dari munasabah ayat, selanjutnya terdapat ayat ke-215 :

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya : ”Dan rendahkan dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. (QS. Asy Syu’araa ayat 215)

Asbab nuzul ayat ini, ketika ayat ini turun Rasulullah SAW, bersabda : ”Wahai Bani Abdul Muthollib, demi Allah aku tidak pernah menemukan sesuatu yang lebih baik di seluruh bangsa Arab dari apa yang aku bawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka siapakah diantara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku dan washiku serta khalifahku?”. Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Tholib. Diantara hadirin beliaulah yang paling muda. Ali berdiri seraya berkata : ”Aku ya Rasulullah. Aku (bersedia menjadi) wazirmu dalam urusan ini”. Lalu Rasulullah SAW, memegang bahu Ali seraya bersabda : ”Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku dan washiku serta khalifahku terhadap kalian. Oleh karena itu, dengarkanlah dan taatilah ia”. Mereka tertawa terbahak-bahak sambil berkata kepada Abi Tholib : ”Kamu di suruh mendengar dan mentaati anakmu”.

Umat Islam adalah saudara bagi yang lain, maka harus saling mendidik dan menasehati. Sebagimana sabda nabi Muhammad SAW, (artinya) : ”Dari Jabir ibn Abdillah ra. berkata : saya bersumpah setia kepada Rasulullah SAW, untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menasehati kepada setiap muslim”. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

2.3.      QS. AT TAUBAH AYAT 122

وَمَاكَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوا كَآفَةً ۚ فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِيَتَفَقَهُوْا فِى الدِيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Artinya : ”Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya”. (QS. At Taubah ayat 122)

Dalam ayat ini juga terdapat dua lafadz fi’il amr yang disertai lam amr, yakni (supaya mereka memperdalam ilmu agama) dan lafadz (supaya mereka memberi peringatan), yang berarti kewajiban untuk belajar dan mengajar.

Adapun proses belajar dan mengajar sangat dianjurkan oleh nabi Muhammad SAW, sabda beliau : ”Dan darinya (Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala orang yang mengikutinya tidak dikurangi sedikitpun dari padanya)”. (HR. Muslim)

Asbab nuzulnya adalah tatkala kaum mukminin di cela oleh Allah bila tidak ikut ke medan perang kemudian nabi Muhammad SAW, mengirimkan syariahnya, akhirnya mereka berangkat ke medan perang semua tanpa ada seorangpun yang tinggal, maka turunlah firman-Nya berikut ini : (tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi) ke medan perang (semuanya. Mengapa tidak) (pergi dari tiap-tiap golongan) suatu kabilah (diantara mereka beberapa orang) beberapa golongan saja kemudian sisanya tetap tinggal di tempat (untuk memperdalam pengetahuan mereka).

Yakni tetap tinggal di tempat (mengenai agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya) dari medan perang, yaitu dengan mengajarkan kepada mereka hukum-hukum agama yang telah dipelajarinya (supaya mereka itu dapat menjaga dirinya) dari siksaan Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Sehubungan dengan ayat ini Ibnu Abbas ra. memberikan penakwilannya bahwa ayat ini penerapannya hanya khusus untuk syari’ah-syari’ah, yakni bilamana pasukan itu dalam bentuk syari’ah lantaran nabi Muhammad SAW, tidak ikut. Sedangkan ayat sebelumnya yang juga melarang seseorang tetap tinggal ditempatnya dan tidak ikut berangkat ke medan perang, maka hal ini pengertiannya tertuju kepada nabi Muhammad SAW, berangkat ke suatu ghazwah.

 

2.4.      QS. AN NISAA’ AYAT 120.

يَأَيُهَا النَاسُ قَدْجَآءَكُمُ الرَسُوْلُ بِالْحَقِ مِنْ رَبِكُمْ فَأَمِنُوْا خَيْرًا لَكُمْ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوْا فَإِنَ ِللهِ مَافِى السَمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

Artinya : ”Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhan-Mu, maka berimanlah kamu, itu yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan sedikitpun kepada Allah SWT) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah SWT. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. An Nisaa’ ayat 170)

Dalam ayat ini Allah SWT, menyeru kepada umat manusia untuk beriman, sebab sudah ada Rasul (nabi Muhammad SAW,) yang di utus membawa syari’at yang benar.

Dalam tafsir disebutkan bahwa lafadz An Naas pada saat turunnya ayat adalah kepada ahli kafir Mekkah.

Adapun manusia, karena adanya kesamaan jenis, ukhuwah basyariyyah, maka dakwah dan tarbiyah kepada non muslim pun harus tetap dilakukan, tentunya dengan jalan yang baik. Nabi Muhammad SAW, bersabda (artinya) :  ”Demi Abdullah Ibn Amr Ibn Al Ashra. Berkata : sesungguhnya nabi Muhammad SAW, bersabda : sampaikanlah dariku walaupun satu ayat……” (HR. Bukhari)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

3.1.      KESIMPULAN

Ayat QS. At Tahrim ayat 6, menunjukkan perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka, yang bisa disimpulkan juga merupakan untuk tarbiyah diri dan keluarga.

Ayat QS. Asy Syu’araa ayat 214, kerabat-kerabat kita terdekat merupakan juga objek dakwah dan tarbiyah.

Ayat QS. At taubah ayat 122, maka tidak sepatutnya seluruh kaum muslimin pergi berperang (jihad), namun harus ada juga yang harus belajar dan mengajar. Sebab proses tarbiyah sangat penting bagi kukuhnya Islam. Rasulullah SAW, bersabda : ”Di hari kiamat kelak tinta yang digunakan untuk menulis oleh para ulama akan di timbang dengan darah para syuhada (yang gugur di medan perang). (HR. Syaikhani)

Ayat QS. An Nisaa’ ayat 120, manusia baik yang muslim atau non muslim merupakan objek dakwah dan tarbiyah. Namun disini perlu diluruskan, bahwa proses dakwah dan tarbiyah tidak harus dengan kekerasan dan perang, tetapi dengan jalan yang hikmah, mauidzoh hasanah dan argumen yang bertanggung jawab.

Pendidikan atau tarbiyah merupakan proses penting untuk melaksanakan taat kepada Allah SWT, dan menggapai ridho-Nya, sebab belajar dan mengajar diwajibkan dalam Islam.

Manusia seluruhnya merupakan objek pendidikan (tarbiyah dan dakwah), namun perlu adanya prioritas untuk kedua hal tersebut, yaitu dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, kerabat, orang Islam dan akhirnya kepada sesama manusia (non muslim).

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

Anshory, Al Allamah Abu Zakariya Al,. Tanpa Tahun. Riyadhus Sholihin. Haromain. Surabaya.

 

Hasyimi, Sayyid Ahmad,. 1971. Mukhtarul Ahaditsun Nabawiyah. Haromain. Surabaya.

 

Latif, Abd, Ahmad Ibnu,. Tanpa Tahun. An Nufahat ‘Ala Syarhil Waroqot. Haromain. Indonesia

 

Musyhadi, K. Ahmad Subhi,. 1981. Misbahul Anam Syarh Bulughul Marom. Maktabah Raja Murah. Pekalongan.

 

Suyuthi Al Allamah Jalalludin As dan Al Allamah Jalalludin Al Mahally,. Tanpa Tahun. Tafsir Jalalain. Darul Kutub Islamiyah. Surabaya.

 

http://tafsirtematis.wordpress.com/kajian-lain/

 

http://c.1asphost.com/sibin/Alqur’an_Tafsir.asp?pageno=6&SuratKe=9#Top.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OBJEK PENDIDIKAN

MAKALAH

Di Ajukan Sebagai Tugas

Mata Kuliah ”Tafsir Tarbawi”

Dosen Pembimbing :

Disusun oleh :

 

 

By rasyidistaidumai

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s